EINSTEIN SYNDROME : Apa, Siapa dan Bagaimana

Julia Maria van Tiel Pembina komunitas mailinglist anakberbakat@yahoogroups.com Disajikan dalam Seminar Online “Mari kita Bicara Tentang Kecerdasan” Tanggal 2 – 4 November 2009

agar teraktualisasi menjadi prestasi yang sesuai dengan kapasitas yang dapat diharapkan (Nature + Nurture). Genetik adalah blue print perkembangan  yang tak dapat diubah. Sekalipun kecerdasan ditentukan secara genetik, dan pembawa sifat kecerdasan berada dalam gen,  namun potensi kecerdasan dapat diukur melalui tes IQ yang culture free. Alasan yang mengatakan bahwa kecerdasan berada di dalam gen sehingga  tidak dapat diukur untuk kemudian muncullah anjuran-anjuran stimulasi dini tanpa melihat bagaimana potensi bawaan, justru hanya akan menyeret kita pada tindakan yang berlebihan pada anak. Disamping itu bagaimana potensi kecerdasan anak, masih dapat kita telusuri melalui observasi tumbuh kembangnya. Dengan demikian kita dapat memberikan stimulasi yang sesuai dengan potensi dan yang dibutuhkan anak.

Pendahuluan

Dalam dekade terakhir ini, kita banyak sekali menerima informasi tentang orang-orang jenius yang dikabarkan menderita gangguan perkembangan majemuk Autisme, antara lain Einstein, Thomas Alfa Edison, Michael Angelo, dan lain-lain.

Namun sebaliknya juga banyak yang mengaguminya sebagai individu luar biar biasa yang mempesona. Begitu terpesonanya kita pada karya-karya mereka, maka publikasi pun tak sungkan-sungkan menawarkan tentang bagaimana agar anak kita mengikuti jejak orang-orang jenius itu. Tawaran itu misalnya dengan mengatakan: cara mudah membuat anak jenius; cara praktis mencetak anak cerdas; berpikir ala jenius; sedikit autisme akan menguntungkan (menjadi jenius).  Tetapi karena adanya publikasi sebagai autisme seringkali muncul pertanyaan yang meragukan untuk mengikuti jejak Einstein, daripada menjadi individu jenius tetapi penyandang autisme, lebih baik tidak saja.

Sebaliknya lagi, banyak orang tua yang mendapatkan diagnosa autisme justru bangga, yang mana kebanggaannya ini karena sudah salah mendapatkan informasi yang menyesatkan bahwa penyandang autisme jika diterapi dengan baik, tepat, dan telaten, maka ia akan menjadi anak jenius.

Namun tak dapat disangkal pula, banyak orang tua yang enggan dan malu jika anaknya yang menyusahkan dan bahkan tak berprestasi untuk menerima identifikasi bahwa anaknya mempunyai potensi giftedness. Akibatnya saat mana anak membutuhkan penanganan yang dibutuhkan, ia tidak mendapatkannya.

Sekalipun terdapat kontroversial, area mencerdaskan anak (jika perlu seperti Einstein) ini juga sangat laku di pasaran. Sebagian dari orang tua tergila-gila oleh tawaran ini. Bahkan tawaran ini dilengkapi pula dengan tawaran buku-buku, flaschcard, CD ROM interaktif, dan tak tanggung-tanggung, dilakukan sejak bayi. Kelompok ini dalam area pendidikan anak seringkali disebut kelompok The Prodigy Maker.

The Einstein Syndrome, siapa dia?

Istilah The Einstein Syndrome dipopulerkan oleh Thomas Sowell, seorang jurnalis terkenal dari Amerika yang mempunyai anak terlambat bicara tetapi mempunyai kecerdasan luar biasa, dan sangat kreatif dalam berbagai bidang seni. Tetapi anaknya mendapatkan diagnosa sebagai anak penyandang autisme. Ia membangun kelompok orang tua dengan anak-anak yang mempunyai gejala yang sama dengan anaknya. Disana ia menemukan hampir semuanya mendapatkan berbagai diagnosa sebagai anak-anak bergangguan. Namun saat anak-anak ini berusia 6 tahun dan masuk sekolah dasar mereka keluar dari kriteria diagnosa. Bersama Steve Camarata seorang Professor dari Department of Hearing and Speech Sciences Vanderbilt University mereka melihat kembali anak-anak dengan diagnosa autisme itu, ternyata anak-anak ini memang bukan kelompok anak autisme tetapi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa murni. Camarata menyebutnya sebagai Natural Late Talker.

Agar lebih jelasnya apa yang dimaksud oleh Thomas Sowell sebagai The Einstein Syndrome dapat kita baca dalam kotak di bawah ini.

July 16, 2008, 0:00 a.m.
Real Autism
Parents need to be spared the emotional trauma of false diagnoses and children need to be spared stressful treatments that follow false diagnoses.
By Thomas Sowell

‘New Ways to Diagnose Autism Earlier” read a recent headline in the Wall Street Journal. There is no question that you can diagnose anything as early as you want. The real question is whether the diagnosis will turn out to be correct.

My own awareness of how easy it is to make false diagnoses of autism grew out of experiences with a group of parents of late-talking children that I formed back in 1993.

A number of those children were diagnosed as autistic. But the passing years have shown most of the diagnoses to have been false, as most of these children have not only begun talking but have developed socially.

Some parents have even said, “Now I wish he would shut up.”

I did absolutely nothing to produce these results. As a layman, I refused to diagnose these children, much less suggest any treatment, even though many parents wanted such advice.

As word of my group spread, various parents would write to ask if they could bring their child to me to seek my impression or advice. I declined every time.

Yet, if I had concocted some half-baked method of diagnosing and treating these children, I could now claim a high rate of success in “curing” autism, based on case studies. Perhaps my success rate would be as high as that claimed by various programs being touted in the media.

If a child is not autistic to begin with, almost anything will “cure” him with the passage of time.

My work brought me into contact with Professor Stephen Camarata of Vanderbilt University, who has specialized in the study of late-talking children — and who is qualified to diagnose autism.

Professor Camarata has organized his own group of parents of late-talking children, which has grown to hundreds, as compared to the several dozen children in my group. Yet the kinds of children and the kinds of families are remarkably similar in the two groups, in ways spelled out in my book The Einstein Syndrome.

The difference is that Professor Camarata is not a layman but a dedicated professional, with decades of experience — and he too has expressed dismay at the number of false diagnoses of autism that he has encountered.

What Camarata has also encountered is something that I encountered in my smaller group— parents who have been told to allow their child to be diagnosed as autistic, in order to become eligible for government money that is available, and can be used for speech therapy or whatever other treatment the child might need.

How much this may have contributed to the soaring statistics on the number of children diagnosed as autistic is something that nobody knows — and apparently not many people are talking about it.

Another factor in the great increase in the number of children diagnosed as autistic is a growing practice of referring to children as being on “the autistic spectrum.”

In other words, a child may not actually be autistic but has a number of characteristics common among autistic children. The problem with this approach is that lots of children who are not autistic have characteristics that are common among autistic children.

For example, a study of high-IQ children by Professor Ellen Winner of Boston College found these children to have “obsessive interests” and “often play alone and enjoy solitude,” as well as being children who “seem to march to their own drummer” and have “prodigious memories.” Many of the children in my group and in Professor Camarata’s group have these characteristics.

Those who diagnose children by running down a checklist of “symptoms” can find many apparently “autistic” children or children on “the autism spectrum.”

Parents need to be spared the emotional trauma of false diagnoses and children need to be spared stressful treatments that follow false diagnoses. Yet the “autism spectrum” concept provides lots of wiggle room for those who are making false diagnoses.

Real autism may not get as much money as it needs if much of that money is dissipated on children who are not in fact autistic. But money is money to those who are running research projects— and a gullible media helps them get that money.

Thomas Sowell is a senior fellow at the Hoover Institution, Stanford University.
© 2008 CREATORS SYNDICATE, INC.

http://www.humanevents.com/article.php?id=27531

Istilahnya terlalu banyak

Bagi orang tua dalam menghadapi anaknya yang terlambat bicara saat ini akan  mengalami kebingungan karena mendapatkan istilah yang berbeda-beda dari berbagai profesi yang dikujunginya. Bukan saja istilah itu berbeda pendapat, bertentangan, atau hanya beda nama, tetapi seringkali tidak ada dalam daftar keilmuan dari bidang-bidang ilmu yang memang ilmu (ilmiah) berdasarkan bukti (evidence based practice). Dengan kata lain label diagnosanya belum diakui oleh para peneliti dan menjadi label yang sudah disepakati oleh kelompok keilmuan yang bersangkutan. Namun justru label ini sekarang sedang marak di pasaran yang tujuannya lebih kepada rujukan terapi (yang seringkali justru sebetulnya tidak diperlukan).

Gejala keterlambatan bicara pada The Einstein Syndrome ini oleh kelompok dokter neurologi sering disebut Pure Dysphatic Development. Oleh ahli audiologi disebut (Central) Auditory Processing  Disorder atau (C)APD. Kata central pakai tanda kurung karena hingga saat ini masih sulit diketahui yang terganggu di bagian syaraf pusat di otak atau di bagian telinga. Oleh dokter psikiatri disebut gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif.  Oleh ahli patologi bicara disebut Specific Linguage Impairment (SLI). Anak yang mempunyai inteligensi luar biasa namun dalam perkembangannya  akan menunjukkan karakteristik tersendiri sebagai anak gifted, dan anak ini oleh ahli gifted children  dikelompokkan sebagai G-VSL (gifted visual spatial learner).

Ia mempunyai nama banyak, karena setiap bidang ilmu mempunyai cara pandang dari sudutnya, dan apa yang dilihatnya diberi istilah dalam bentuk diagnosa.

Kelompok tersungkrah-sungkrah…

Kelompok anak-anak ini bagai bintang film populer karena dipuja dan dipuji (karena tak mengenal dari dekat), tetapi kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari sungguh menyedihkan. Bukan hanya bagi si anak sendiri, tetapi juga bagi orang tua dan pihak sekolah.  Apabila anak sudah mendapatkan diagnosa yang benar (gifted visual spatial learner), kesulitan masih belum berhenti. Karena bentuk-bentuk intervensi yang sesuai dengan pola tumbuh kembang dan berbagai karakteristik kelompok anak ini kurang tersedia di pasaran (bisa dikata tidak ada); informasi yang jelas dan detil untuk anak kelompok ini tidak ada (ia bagai kelompok misterius); jika masuk sekolah juga guru-guru tak sanggup menanganinya (padahal bersekolah harulah diliwati dalam  jangka waktu bertahun-tahun dan harus liwat banyak tangan guru serta segala macam mata pelajaran); mengalami kesulitan bersosialisasi (ia bagai orang dari planet Mars layaknya).

Sering terjadi juga – supaya orang tua memilih diagnosa lain agar sesuai dengan kotak intervensi yang tersedia, maka terjadilah kekacauan arah jalan yang ditempuh oleh anak-anak ini. Jika di negara-negara lain seperti di Eropa atau Amerika, karena keterlambatan bicara murni ini dianggap sebagai kelompok anak yang tidak patologis, maka tidak ada satupun perusahaan asuransi yang mau membiayainya. Bahkan subsidi  dari pemerintah juga tidak ada. Sehingga orang didorong (baik dari pihak sekolah ataupun lembaga profesi) untuk memilih salah satu dari “menu” diagnosa anak bergangguan. Maksudnya agar sekolah, mendapatkan jatah subsidi dan membiayai guru ekstra maupun guru remedial; dan orang tua mendapatkan dana untuk membawa anaknya ke terapi-terapi yang dibutuhkan (padahal tidak sesuai).

Laporan Stichting Disfatisch Amsterdam yang menangani anak-anak ini di Belanda, mengatakan bahwa dahulu anak-anak kelompok terlambat bicara murni ini tidak dirujuk ke profesi manapun. Hal ini karena  perkembangan anak terlambat bicara adalah perkembangan yang tidak patologis, tetapi perkembangan yang berbeda. Namun dengan adanya pemeriksaan dan penjaringan anak-anak berkekhususan semakin gencar, maka anak-anak ini banyak yang melandas di kamar psikiater (Tan dkk, 2005).

Terlantarnya anak kelompok ini  dapat disebabkan karena bermacam sebab:

  • Hingga saat ini teori yang yang digunakan oleh pihak profesi maupun praktisi hanya menggunakan teori-teori yang tidak bisa menjaring kelompok anak-anak ini. Padahal profesi ahli gifted children sudah menyediakan teori-teori lain serta panduan pendeteksian sedini mungkin (banyak ahli dan profesi yang menyangka bahwa perkembangan seorang anak gifted hanya akan menyangkut pada perkembangan kognitif saja, padahal adanya lompatan perkembangan kognitif akan mempunyai dampak pada perkembangan yang lainnya yang pada akhirnya menyebabkan tahapan perkembangana anak-anak ini menjadi krusial)[1].
  • Tidak ada ceklis baku untuk pendeteksian sedini mungkin karena pola tumbuh kembang anak-anak gifted sangat beragam dan krusial (hingga saat ini dunia para ahli gifted children ilmiah mainsteam tidak sanggup membuatnya – di negara-negara maju yang ada hanya panduan pola tumbuh kembang anak gifted yang dapat digunakan saat observasi), karena itu tidak ada ceklis yang dapat mendampingi berbagai ceklis pendeteksian anak-anak bergangguan. Akibatnya luputlah anak-anak ini dari pendeteksian sebagai anak gifted dan terjerat masuk ke dalam kelompok anak-anak bergangguan lainnya.
  • Pihak profesi dan praktisi yang berkecimpung dalam dunia gifted children lebih banyak membahas pendidikan anak gifted, dan sangat langka yang mendalami berbagai masalah yang disebabkan karena pola tumbuh kembang serta kepribadian yang khusus ini. Dengan demikian anak-anak ini tidak dikenal – jika pun ada publikasinya, seringkali publikasi itu muncul dari para orang tua (yang seringkali dianggap bias). Dengan demikian penelitian ilmiah  terhadap kelompok ini yang dapat digunakan sebagai acuan intervensi maupun pendidikan, luar biasa langka. Walau tidak dapat disangkal bahwa langkanya penelitian ini disebabkan karena pola tumbuh kembangnya memang krusial sehingga para peneliti sendiri menghadapi subjek yang beragam (heterogen) justru akan mengalami kesulitan.

The late bloomer

Akibat dari ketertinggalan perkembangan bahasa dan bicara ini, menyebabkan berbagai perkembangan yang lain juga turut tertinggal, sekalipun ada lompatan perkembangan pada bidang potensi kognitif. Kondisi tidak harmonis ini dalam dunia ilmu gifted children  oleh Linda Silverman disebut asynchronous development.  Sedang Jean Charles Terrassier menyebutnya dissynchony (disinkroni).   Umumnya yang tertinggal itu adalah yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa dan berbicara dengan segala akibatnya. Ia tak mampu menyampaikan emosinya melalui bahasa, ia mengalami ketertinggalan perkembangan sosial, dan ia juga pada akhirnya mengalami ketertinggalan berbagai pelajaran di sekolah. Bagaimanapun belajar di sekolah juga memerlukan ketrampilan berbahasa dan berbicara. Pada akhirnya ia menjadi anak dengan prestasi rendah (underachiever). Karena itu anak kelompok ini mengalami banyak kesulitan saat masa kecilnya. Di berbagai negara yang mempunyai pemantauan tumbuh kembang yang baik, anak-anak ini sudah dimasukkan ke dalam kelompok anak beresiko. Resikonya jika tak ditangani dengan baik ia akan mengalami perkembangan yang salah arah yang dapat merugikan perkembangannya. Sudah banyak laporan tentang kisah duka anak-anak ini.

Jika kita rajin membaca buku-buku tentang pendeteksian, pengasuhan, dan pendidikan anak gifted di atas tahun 2005, sudah mulai banyak membahas kelompok anak ini. Karena itu jika kita ingin memperdalam dunia anak berkekhususan, maka kita perlu memilih buku-buku tentang gifted children yang terbaru, agar kelompok ini tidak lagi-lagi dimasukkan ke dalam kelompok anak bergangguan.

Jika gejalanya begini belum tentu autisme

Pengalaman dari para orang tua  anak-anak kelompok ini di berbagai belahan dunia sungguh sangat menarik. Karena pada umumnya anak-anak ini saat masih berusia balita mengalami berpindah-pindah diagnosa hingga berkali-kali. Setiap kali mengetuk pintu pihak profesi ia akan mendapatkan stempel yang berbeda-beda. Seperti juga yang dilaporkan oleh Webb dkk (2005), bahwa anak-anak terpandai kita kini tengah mengalami musibah mendapatkan salah diagnosa, dan hal ini menggejala hampir di seluruh belahan dunia.

Gifted yang mengalami keterlambatan bicara (gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif) ini seringkali di usianya di bawah 3 tahun terjebak ke dalam kelompok anak gangguan majemuk autisme PDDNOS atau Autisme ringan (padahal sekalipun autisme ringan jika dibandingkan dengan anak dengan perkembangan normal maka autisme ringan ini juga merupakan gangguan perkembangan yang parah karena gangguannya mengenai banyak aspek perkembang (Kieboom, 2007). Atau karena kesulitan menentukan apakah anak ini PDDNOS atau kelompok penyandang autisme klasik, maka sering diberi istilah diagnosa ASD (Autism Spectrum Disorder) akhirnya orang tua juga tidak tahu lagi anak ini berada dalam kelompok autisme yang mana yang berlanjut pada pemilihan intervensi yang sama saja dengan gangguan yang parah).

Sementara itu hingga saat ini deteksi dan diagnosa autisme baru bisa menggunakan kriteria perilaku yang seringkali justru sangat subjektif (Van Schijndel-Jehoel,  2005). Deteksi melalui kriteria objektif semisal menggunakan penciteraan otak masih belum dapat dilakukan, begitu juga menggunakan tes darah, tinja, dan urin.  Melalui pemeriksaan genetika (DNA) juga belum dapat dilakukan. Padahal gangguan perilaku dapat disebabkan oleh segala macam gangguan, dan kriteria deteksi autisme melalui DSM IV tidak membedakan gangguan-gangguan perilaku itu disebabkan karena apa. Hal seperti inilah yang dapat menjebak anak-anak ini jika kita tidak melihat lagi berbagai hal lainnya yang dapat membedakannya dengan gangguan majemuk autisme.

Saat mana biasanya anak-anak ini di atas usia tiga tahun akan mengalami kemajuan bicara yang cukup baik, sehingga diagnosanya kemudian diubah menjadi ADHD (karena anak-anak ini memang tak bisa duduk diam). Tetapi kita harus juga mengingat bahwa ADHD di tegakkan di atas usia 6 tahun.

Pada waktu anak ini berusia di atas 6 tahun seringkali ia sudah tidak terlalu banyak gerak, kemudian ADHD berubah menjadi ADD karena terlihat mengalami kesulitan berkonsentrasi. Padahal ADHD adalah gangguannya berada di otak, dan merupakan cacat yang diturunkan secara genetik, karena itu apabila seorang anak mengalami gangguan ADHD tidak akan bisa berubah menjadi ADD.

Pada saat anak-anak ini sudah bersekolah, umumnya terlihat sangat pandai walaupun prestasinya masih berada di bawah kapasitas yang diharapkan (bila dibandingkan tingkat perkembangan inteligensinya). Namun karena ia masih mengalami kesulitan bersosialisasi dan emosinya kurang stabil, anak-anak ini sering juga disebut sebut sebagai autisme yang pandai, autisme yang berfungsi tinggi, atau bahkan kelompok autisme Asperger. Padahal jika saja ia seorang anak autisme, ia mengalami keterbatasan dalam kreativitas yang menyebabkan bidang minatannya sempit, serta mengalami kesulitan dalam berfantasi dan berimajinasi, serta kesulitan dalam tugas-tugas sekolah yang memerlukan kemampuan pemecahan masalah.

Artinya, jika anak kita mempunyai kemampuan pemecahan masalah,  mempunyai perkembangan kreativitas yang baik, dan mempunyai perkembangan fantasi dan imajinasi, sekalipun mempunyai kesulitan bersosialisasi dan emosi belum tentu ia penyandang autisme. Bisa saja ia adalah seorang anak late bloomer, atau anak gifted mengalami komorbiditas (gejala yang muncul secara bersamaan)  dengan masalah  sosial emosional. Pada kelompok the late bloomer, dilaporkan, dengan bimbingan yang baik, diusianya menjelang pubertas ia akan mengalami perbaikan perkembangan dan mengalami normalisasi perkembangan (Aldenkamp dkk, 2004).

Sekalipun kita dapat mengatakan bahwa anak-anak cerdas istimewa (gifted) ini mempunyai perbedaan dengan autisme karena mempunyai kemampuan pemecahan masalah yang baik bahkan luar biasa, namun kesulitan orang tua untuk melihat kemampuan ini memang cukup sulit. Karena yang terlihat seringkali hanya berbagai kesulitannya. Karena itu kita dapat menelusurinya melalui tiga sinyal  (de Hoop & Jansen, 1999; Mönks &Ypenburg, 1995; Silverman, 1995; Mönks , 2000; Silverman, 2002)

1)      sinyal tumbuh kembangnya

2)      sinyal kepribadiannya

3)      sinyal giftednessnya

Kenali pola tumbuh kembangnya

Tumbuh kembang anak-anak ini memang berbeda dengan pola perkembangan anak normal. Ia mempunyai pola perkembangan (Mönks JF & Ypenburg,1995; de Hoop & Jansen, 1999; Silverman, 1995; Silverman, 2002; Mönks , 2000):

  • skalanya besar
  • perkembangannya cepat
  • tidak sinkron yang menyebabkan tahapan perkembangan yang tak teratur bahkan terdapat deskrepansi  di beberapa aspek perkembangan

Karena perkembangan anak-anak gifted ini mempunyai keragaman yang cukup banyak, maka tidak ada ceklis tertentu yang dapat digunakan (Mönks , 2000; Mooij dkk, 2007). Perkembangan satu anak ke anak lain seringkali tidak sama. Hal ini karena  domain perkembangan anak tidak hanya satu, ada beberapa, yaitu perkembangan emosi dan emosi sosialnya, perkembangan motoriknya, perkembangan bicara dan bahasa, perkembangan fisik (berat badan, tinggi badan dan status kesehatan), perkembangan sensoriknya, perkembangan kognitif, dan perkembangan kemandirian serta adaptasinya. Kadang ada anak yang dilaporkan lahir dengan berat badan yang tinggi, ada yang tidak. Ada anak yang mempunyai pembawaan rewel, ada yang tidak. Ada yang terlalu sensitif dengan suara dan cahaya sehingga mudah terbangun dan menangis, ada yang tidak.

Walau demikian, panduan yang dapat diberikan terhadap perkembangan anak yang dapat menandai bahwa ia mempunyai potensi kecerdasan yang baik adalah bila kita mendapatkan anak ini dengan kondisi (Stichting Plato, 2002):

  • Mempunyai skor Apgar yang tinggi yaitu antara 8-10 pada menit-menit 5-10 menit pertama usia saat baru dilahirkan.[2]
  • Umumnya lahir lebih berat dari rata-rata anak baru lahir.
  • Lebih cepat membangun kontak mata, dan membalas senyuman.
  • Mempunyai perkembangan motorik yang lebih cepat.
  • Motorik halus

–          melihat ke tangan

–          memainkan tangan di depannya

–          mengambil dengan mainan

–          mengambil mainan dengan dua tangan

–          mengambil dan memasukkan mainan ke suatu tempat

–          bermain memberi dan menerima

  • Motorik kasar

–          merangkak

–          berdiri dan stabil jika dilepas

–          menegakkan badan

–          merambat

–          berjalan

  • Sangat waspada.
  • Sangat tidak sabaran.
  • Sangat sensitif.
  • Mempunyai daya ingat yang kuat.
  • Mempunyai pola hidup yang tetap dan teratur
  • Menuntut banyak perhatian, dan seringkali sangat tergantung.
  • Perkembangan komunikasi dan perkembangan kepribadian yang lebih cepat.
    • Membalas senyuman.
    • Bereaksi terhadap namanya.
    • Mengatakan dada, baba, gaga.
    • Bereaksi jika dipanggil namanya.
    • Melambaikan tangan dag dag.
    • Perkembangan bicara yang sangat cepat, berbicara dengan dua kata yang mempunyai makna, namun sebaliknya sebagian dari anak-anak ini juga mengalami keterlambatan bicara.
    • Memahami beberapa kalimat yang digunakan sehari-hari.
    • Dapat menolong diri sendiri.
    • Bermain dengan anak lain.
    • Mempunyai pendapat sendiri.
    • Dapat diberitahu/perintah.
    • Mempunyai inisiatif.

Tidak semua anak gifted mempunyai gejala yang lengkap sebagaimana di atas, namun secara umum mempunyai gejala-gejala yang banyak dari daftar di atas. Anak-anak yang lahir premature dapat saja berkemungkinan kelaknya ternyata adalah anak-anak gifted. Dari laporan para orang tua, umumnya anak-anak ini di minggu pertama sudah dapat membalas senyuman. Mata mengikuti gerakan juga sangat cepat berkembang. Banyak dari bayi-bayi ini yang mempunyai jam tidur sedikit. Pada dasarnya banyak yang menggambarkan anaknya merupakan anak yang hiperaktif, yang menuntut ekstra enerji dari orang tuanya.

Bayi-bayi ini mempunyai perkembangan merangkak dan berjalan yang lebih cepat dari jadwal rata-rata. Umumnya berjalan sebelum usia satu tahun. Yang jelas bila dibandingkan dengan perkembangan rata-rata akan sangat nampak bahwa bayi-bayi ini mempunyai lompatan perkembangan. Perilaku overaktif nampak sebagai akibat dari perkembangan sistem neuromuskularnya (sistem persyarafan yang mengatur gerakan otot), yang telah diketahui bahwa perkembangan sistem persyarafan anak-anak gifted akan memakan waktu lebih lama daripada rata-rata anak.

Karenanya juga anak-anak ini mempunyai sistem pancaindera yang sangat sensitif, misalnya terhadap ransang raba, cahaya, dan suara. Disamping itu ketahanan tubuhnya juga sangat sensitif dan menjadi rentan. Yang perlu dijelaskan juga adalah bahwa sangat banyak anak-anak gifted yang mengalami alergi misalnya terhadap bahan pewarna dan penambah rasa.

Kebanyakan bayi akan membawa pengalaman dan kesan-kesannya turut dalam tidurnya. Bayi-bayi ini akan lebih tenang jika dikembalikan pada pola-pola yang teratur dan tertentu. Bila hal ini dilanggar maka anak-anak ini akan bereaksi terhadap situasi, marah dan selalu menangis. Dalam kurva berat badan dan tinggi badan, perlu diamati seberapa jauh pertumbuhannya bila dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Dalam pemeriksaan berkala dapat dilihat juga kapan anak-anak ini merangkak, berjalan dan seterusnya. Bila ia melebihi di atas rata-rata anak seusianya terutama perkembangan motorik dan kognitif, maka dapat diartikan bahwa bayi-bayi ini mempunyai lompatan perkembangan.

Daya ingat yang sangat kuat pada anak-anak gifted ini dapat ditandai dengan ia sangat ingat dengan berbagai kejadian yang pernah dilaluinya, ia akan marah jika kita melalui jalan lain, ia masih ingat akan jalan yang telah menyebabnya trauma misalnya ke rumah sakit dan ia akan berterak-teriak menolak melalui jalan itu.

Perkembangan usia 2,5 hingga 4 tahun

Jika tadi di usia di bawah 2,5 tahun kita bisa melihat lompatan perkembangan anak melalui perkembangan motorik, bicara dan bahasa, serta adaptasi sosial dan kemandiriannya, maka pada usia di atas 2,5 tahun kita baru bisa mulai melihat lompatan perkembangan pada bidang kognitifnya secara langsung.

Pada usia bayi hingga 2,5 tahun untuk memprediksi seorang anak mempunyai perkembangan kognitif yang baik, kita baru dapat melihat melalui perkembangan sensomotoriknya, sementara itu perkembangan kognitifnya belum nampak secara jelas. Perkembangan kognitif menurut Piaget, ia menyebut periode di bawah dua tahun dengan sebutan periode sensomotorik. Sedang di usia 2 hingga 4 tahun disebutnya sebagai perkembangan kognitif periode pre-operasional.

Di usia 2,5 hingga 4 tahun ini kita baru bisa melihat anak-anak gifted ini menunjukkan gejala prkembangan kognitifnya yang lompat jauh lebih maju dari teman sebayanya.

Lompatan perkembangan kognitif dapat kita perhatikan dari:

  • Mempunyai perhatian yang luas pada sekitarnya.
  • Menyukai berbagai bentuk-bentuk dan benda.
  • Menyukai angka-angka, dan huruf-huruf, yang diteruskan dengan kemampuan belajar membaca dengan caranya sendiri (tidak diajari).
  • Memahami hitungan (banyak, sedikit, kurang, lebih), yang diteruskan dengan kemampuan berhitung belajar dengan caranya sendiri (tidak diajari).
  • Memahami waktu (lama, sebentar).
  • Menggambar tiga dimensional.
  • Membuat bangunan konstruksi tiga dimensional misalnya rumah-rumahan, jembatan layang, desa penuh dengan perangkatnya (rumah, pohon, binatang, jalan-jalan, mobil, dan sebagainya).
  • Bermain puzzel.
  • Mempunyai pemahaman asosiasi dan sebab akibat yang baik.

Perkembangan kepribadiannya akan lebih nampak yang memperlihatkan adanya perbedaan karakter dengan anak-anak lainnya, dapat kita lihat:

  • Sangat mandiri.
  • Tidak mau dicampuri dan tidak bisa didikte.
  • Keras kepala.
  • Menginginkan segala sesuatu sekarang juga.
  • Tidak pernah putus asa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
  • Perfeksionis.
  • Sangat konsentrasi pada sesuatu yang tengah dikerjakan.

Dalam perkembangan ini, ia akan berkembang sangat cepat. Ia dapat memainkan alat-alat mainan apa saja dan ia dapat mengembangkannya secara mandiri. Hal ini karena bukan saja ia mempunyai kemampuan pandang ruang atau dimensi yang baik, namun ia juga mempunyai kreativitas yang baik. Dalam perkembangan ini biasanya orang tua tidak merasa kesulitan. Ia dapat asyiek bermain sendiri secara mandiri. Namun permintaannya yang banyak, terus menerus tidak berhenti,  dan harus sekarang juga seringkali menyebabkan orang tua tidak sabar menghadapinya. Berbagai alat mainan yang baru dimintanya sudah dengan cepat ia kuasainya – untuk kemudian ia menginginkan yang lain lagi. Ia selalu berusaha menjelajah sesuatu yang baru, sehingga alat-alat mainan yang baru diberikan padanya dengan cepat baginya sudah menjadi barang tua. Hal ini juga sering menyebabkan orang tua merasa kesulitan menghadapinya.

Banyak orang tua ataupun guru mengharapkan agar si anak tetap bermain dengan barang yang sama, asyiek bermain dengan alat-alat yang sama, namun tidak demikian halnya bagi anak-anak gifted ini. Ia selalu menginginkan segala sesuatu, yang lain lagi, dan yang baru. Sehingga seringkali nampak jika dibandingkan dengan teman-teman sebayanya di kelas ia bagai anak tidak mempunya konsentrasi dan atau tidak dapat bermain bersama.

Sebaliknya, sekalipun ia mempunyai perilaku yang melebar yang selalu menjelajah dan berusaha meminta alat-alat main yang baru yang dirasanya lebih menantang, ia juga mempunyai perhatian yang luar biasa pada satu permainan yang menarik bagi dirinya, yang dirasanya menantang, mengasyiekkan, sehingga seringkali alat main ini tidak bisa lepas lagi dari dirinya. Ia bagai berikatan dengan alat main itu. Umumnya alat-alat main itu yang dapat dikembangkannya melalui fantasi dan kreativitasnya, misalnya alat-alat mainan konstruksi bangunan, komputer, dan alat-alat main yang bisa dikembangkan menjadi sebuah desa atau kota lengkap dengan jalan kereta api, jalan raya, mobil, binatang, rumah, toko, stasiun, dan sebagainya.

Agar perkembangan kognitifnya tidak mengalami hambatan, maka perhatikan juga perkembangan motorik halusnya. Banyak diantara anak-anak gifted yang menjelang usia sekolah dasar mempunyai ketertinggalan perkembangan motorik halus ini. Karena itu perkembangan motrik halusnya perlu mendapatkan perhatian secara seksama.

Untuk melihat perkembangan motorik halus, perhatikan:

  • Bagaimana cara memegang pinsil.
  • Kordinasi mata-tangan saat bekerja.
  • Kordinasi jari-jari.
  • Kordinasi kedua tangan.
  • Keluwesan pergelangan tangan.
  • Menempel dan menyobek.
  • Menggunting.
  • Menusuk.
  • Meronce.
  • Menjumput benda kecil-kecil.
  • Meletakkan puzzel kecil-kecil.
  • Mewarnai dengan pinsil berwarna.
  • Menggambar pinggiran.

Diantara anak-anak gifted ini juga banyak yang mempunyai kesulitan menentukan tangan mana yang lebih kuat, kiri atau kanan. Karena itu perlu diperhatikan tangan mana yang lebih baik untuk mereka gunakan, agar ia dapat dilatih menggunakan tangan tersebut secara lebih mapan.

Perkembangan usia 4 – 6 tahun.

Di usia 4 tahun ini anak akan masuk ke sekolah TK, umumnya belum nampak adanya masalah apa yang disebut dengan prestasi rendah (underachiever). Gejala yang dapat diamati akan adanya lompatan perkembangan di usia taman kanak-kanak ini dapat dilihat sebagai berikut:

  • • Belajar membaca dan berhitung sendiri.
  • • Mempunyai konsentrasi dan ketahanan kerja yang tingi, dan dapat melakukan banyak

hal dalam waktu bersamaan.

  • • Senang belajar.
  • • Sangat enerjik, tingkat aktivitas yang tinggi, banyak gerak, tidak dapat duduk diam,  dan tidur hanya sedikit.
  • • Mempunyai daya ingat kuat.
  • • Perilakunya menunjukkan bahwa ia perfeksionis.
  • • Mudah belajar (sering kali justru hanya ingin menuruti kemauannya sendiri, dan menyimpang dari metoda yang umum).
  • • Penggunaan bahasa yang sangat baik, atau sebaliknya bagi yang terlambat bicara
  • • Mandiri dalam melakukan pekerjaan (membutuhkan sedikit petunjuk saja).
  • • Mampu mengerjakan tugas yang kompleks.

Banyak dari anak-anak gifted yang mengalami perkembangan sensor raba yang tinggi, seringkali tidak mau mengikuti kegiatan yang menggunakan material yang lengket-lengket seperti lem, lilin/malam, dan cat air. Atau motorik halus yang tertinggal ia juga kesulitan melakukan tugas menggunting, meronce, menusuk, dan menggambar.

Seringkali perfeksionismenya juga nampak dengan kapasitas yang besar, hingga ia tak mau mewarnai, menggunakan cat air, dan tugas-tugas yang ternyata berbeda dengan apa yang dibayangkan.

Kenali karakteristik kepribadiannya

Karakteristik kepribadian seorang anak gifted ini pada umumnya memang tidak dikenali, karena publikasinya tidak terlalu banyak. Padahal kepribadian seorang anak gifted apalagi yang highly gifted dengan IQ di atas 140 skala Weschler mempunyai kepribadian yang sangat khusus. Kepribadian yang khusus ini jika ditanggapi secara keliru dan negatip (seringkali dianggap eksentrik bahkan sering pula dianggap sebagai gangguan jiwa) akan berdampak negatip pula pada perkembangan kepribadian dan psikis anak itu sendiri, serta kurang berkembangnya potensi keberbakatan yang dimilikinya (Mönks , 2000). Hal yang tersering terjadi adalah tudingan kepada orang tua, yang dianggap sudah salah mengasuh anak-anak ini. Akibatnya orang tua ditekan agar mengendalikan maupun menekan karakteristik alamiah itu, yang tentu saja tindakan itu tidak sesuai dengan pola perkembangan alamiah si anak. Bahkan lebih akan mengakibatkan yang seharusnya karakteristik ini dapat untuk mendukung terkembangan keberbakatan istimewa, tetapi justru terjadi penekanan terhadap perkembangan keberbakatan istimewa itu sendiri.

Karena pada dasarnya perilaku seseorang juga dinilai dari norma-norma budaya setempat, maka penilaian terhadap pola alamiah ini dapat dianggap menyimpang dari norma perilaku yang diajarkan oleh budaya secara turun temurun. Dalam budaya kita mengajarkan bahwa seorang anak harus berperilaku manis dan menuruti nasihat orang tua. Apa yang dapat kita temui pada anak-anak dengan The Einstein Syndrome justru seorang anak yang banyak gerak, dan tidak mau mendengarkan nasihat, keras kepala, sulit diatur, dan bagai hidup dengan agendanya sendiri.

Perfeksionis adalah salah satu karakteristik kepribadian seorang anak gifted yang paling menonjol. Perfeksionis adalah tuntutan dari dalam diri sendiri yang menuntut segala sesuatu dengan cita rasa yang tinggi. Karakteristik ini dibutuhkan dalam upaya mencapai prestasi yang sempurna. Namun karaktrsitik ini justru dapat memuculkan permasalahan juga. Perfeksionis akan memunculkan perasaan takut gagal (dalam bahasa Belanda disebut faalangst). Faalangst memang dibutuhkan sebagai alat untuk mawas diri, namun jika berlebihan akan menjadi faalangst negatip. Ia takut bersosialisasi (faalangst sosial), takut mengerjakan ujian (faalangst kognitif), dan takut berolahraga (faalangst motorik)

Seorang anak yang perfeksionis, tidak membandingkan kemampuan dirinya dengan teman sebaya (atau orang lain), tetapi membandingkan prestasi yang dicapainya dengan gambaran ideal yang ada di kepalanya. Karena itu seringkali ia mengalami kefrustrasian karena tak dapat mencapai apa yang tergambar di kepalanya. Keadaan ini seingkali dituding sebagai anak yang terlalu ambisius. Sementara itu ia sendiri tidak mengenal potensinya sendiri, karenanya seringkali justru merasa kecewa akan hasil yang dicapainya. Ia merasa bagai anak tolol.

Keras kepala dan tidak dapat didikte adalah salah satu karakteristik kepribadian yang lainnya yang sangat menyulitkan dalam mengasuh dan mendidiknya. Sekalipun karakteristik kepribadian ini dapat menjadi pilar penyangga agar motivasi mencapai prestasi dapat terus menerus eksis, serta tetap mempertahankan ketahanan kerjanya, sehingga ia tetap komit terhadap tugasnya. Namun bagi orang tua dan guru kepribadian keras kepala dan tidak dapat didikte ini sungguh menyulitkan. Ia bagai anak yang tak mau mendengarkan nasihat, ia bagai anak yang tidak bisa diperintah, ia bagai anak yang tidak bisa dicampur-tangani. Ia seringkali menjadi anak yang nampak bossy, dan sulit menjadi anak buah, serta kesulitan bekerjasama dalam sebuah tim. Tetapi masalah ini tidak berhenti sampai disini, karena faktor perefeksionis yang memunculkan faalangst juga akan turut bermain. Sehingga dapat ditemui anak-anak kita ini justru keras kepala tetapi takut untuk maju…..Dan yang muncul adalah keras kepala tidak mau maju dan ketakutan sebelum maju perang.

Mandiri. Sejak kecil anak gifted umumnya sudah berusaha mencoba-coba melakukan segala sesuatu yang dapat dicapainya. Ia menjadi lebih cepat mandiri. Seperti memakai pakaian, kebelakang (buang air), makan, dan sebagainya. Pada kelompok anak gifted yang tidak mempunyai masalah perkembangan, hal ini akan nampak sekali. Orang tua merasa senang karena si anak sangat terlihat mempunyai kemajuan perkembangan secara pasti dan mendahului anak-anak sebayanya. Namun tidak pada kelompok gifted yang mempunyai perkembangan dengan disinkronitas yang besar sebagaimana kelompok The Einstein Syndrome ini. Perkembangan dengan tahapan yang tidak teratur menyebabkan faktor kemandirian ini justru kadang nampak maju, kadang tertinggal. Kadang terlihat lebih maju teman sebayanya, namun seringkali juga tertinggal dari teman sebayanya. Atau di satu sisi ia nampak lebih maju dari teman sebayanya, tetapi di sisi lain ia nampak jika sangat tertinggal. Orang tua atau guru seringkali sulit menentukan apakah si anak dapat dikatakan sebagai anak yang mandiri, karena kadang ia terlihat sangat mandiri, namun kadang terlihat tertinggal dari teman-temannya. Untuk hal ini orang tua maupun guru harus berpegang dengan apa yang pernah di capainya (bagian termaju), bukan bagian saat mundurnya. Karena kondisi ini merupakan kondisi yang khas dari The Einstein Syndrome, yaitu perkembangannya satu-satu dengan skala yang besar. Jika salah satu aspek sedang mengalami perkembangan dengan skala yang besar maka perkembangan yang tadi nampak berkembang baik kini terlihat tertinggal. Tetapi kelak apa yang tertinggal itu akan disusulnya kembali dengan skala yang besar.

Otodidak. Sejak kecil sekali anak-anak ini sudah melakukan kegiatan pengembangan intelektual yang merupakan dorongan internalnya. Ia banyak ngoprek segala macam benda yang ada di sekitarnya. Ia melepaskan rasa ingin tahunya yang besar dengan berbagai kegiatan melalukan ekplorasi yang kapasitasnya besar melebihi rata-rata anak seusianya. Orang tua sering menyebutnya sebagai anak yang nggratil, nakal, tukang ngoprek, dan tukang merusak (jika melapor ke dokter atau psikiater dalam rangka mendeteksi anak bergangguan perilaku semisal ADHD, jangan sampai tertukar dengan karakteristik ini). Karena terbiasa melakukan pengembangan intelektual atas dasar dorongan internalnya, ia menjadi anak yang otodidak. Ia terbiasa belajar dengan caranya sendiri berdasarkan hasil uji cobanya selama itu. Namun pada akhirnya seringkali cara-cara yang ia punyai tidak sesuai dengan cara-cara yang diajarkan oleh sekolah.

Contoh yang paling sering terjadi adalah, anak-anak The Einstein Syndrome ini sekalipun belum mempunyai kemampuan bicara yang baik tetapi ia sudah menunjukkan kemampuan membaca dengan cara mengutak-atik reklame yang ia temui. Ia membaca dengan cara visual. Ia bisa mengutak-atik  kata dalam reklame menjadi kata-kata baru. Ia bisa membaca berdasarkan kata-kata yang pernah ia temui. Kondisi ini disebut hyperlexia. Tetapi pada saat ia masuk ke sekolah dasar, cara belajar membacanya menggunakan metoda sebagaimana ilmu pendidikan ajarkan. Bukan cara yang biasa dilakukan oleh seorang anak The Einstein syndrome ini. Pendidikan di sekolah pada umumnya mengajarkan membaca dengan metoda phonic, dan dieja. Padahal anak-anak The Einstein Syndrome ini mempunyai kesulitan dalam melakukan pencanderaan melalui telinga, pada waktu kecil ia mengalami gangguan pemrosesan auditori. Karaktersitik kuat The Einstein Syndrome justru pada kemampuan visual-spatial, bukan auditory –squential.  Bahkan kemampuan audotiry – squentialnya mengalami hambatan perkembangan (untuk sementara). Dengan begitu, saat-saat awal sekolah dasar, adalah masa krisis baginya. Di masa ini ia seringkali terjebak dalam diagnosa Learning Disabilities, Minimum Brain Dysfuntion, Brain Injury, atau bahkan lamban belajar.

 Sangat sensitif.  Pola perkembangan yang besar  di beberapa aspek perkembangan ini memang cukup menyulitkan bagi anak-anak ini.  Kazimierz Dabrowski dengan teorinya yang terkenal yaitu The Theory of Positive Disintegration tahun 1964,  menjelaskan tentang perkembangan yang overexcitibility berbagai aspek tumbuh kembang individu gifted, yang meliputi aspek: psikomotor,  sensual, intelektual, imajinasi, dan emosi (de Hoop & Janson, 1999; O’Conor, 2002; Webb dkk, 2005).  Akibatnya anak-anak ini mengalami tingkat sensitivitas yang sangat tinggi. Bukan hanya perasaannya saja, namun juga berbagai organ sensorisnya. Anak-anak ini menanggapi pengalaman yang didapatkannya dengan sangat intens. Misalnya ia dapat tersinggung dengan suatu canda yang bagi orang lain tidak menjadi masalah. Ia bagai anak yang fragil, mudah pecah, karenanya mudah menangis. Selain ia sangat peka terhadap masalah-masalah sosial, ia juga merupakan anak yang mudah iba.  Akibat dari sensitivitas sensorisnya, di sekolah TK ia sulit mengerjakan tugas menempel, bermain dengan lilin malam, atau benda lengket dan cair. Kulitnya juga juga sangat sensitif dari benda-benda yang dirasanya kasar, misalnya merek baju di leher belakang, kaus kaki, resluiting, kancing baju, dan baju yang kasar.  Saat harus duduk tenang konsentrasi mengikuti pelajaran, konsentrasinya mudah terganggu dan beralih perhatian karena ada rangsangan suara maupun benda yang bergerak-gerak di luar ruang kelas.

Perkembangan emosi.  Perkembangan emosi yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial pada kelompok anak-anak ini merupakan salah satu aspek yang tidak bisa dilupakan. Karena perkembangan emosinya yang juga besar, kadang terjadi peledakan-peledakan emosi. Apalagi ia juga mempunyai karakteristik lain seperti tidak bisa didikte, keras kepala, mempunyai kemauan keras, semua itu bisa menyulut konflik emosi dengan guru dan orang tua. Kondisi seperti ini yang berlarut-larut menjadi kebiasaan sehari-hari bisa menyeretnya masuk ke ruang psikiater atau psikolog klinik. Jika tidak hati-hati melihat gejala (atau melaporkan gejala pada psikiater), maka ia juga dapat terseret ke dalam diagnosa ADHD. Perlu dibedakan gangguan emosi pada ADHD dan anak kelmompok ini. Pada anak kelompok ini tidak mempunyai keinginan merusak, tidak mencari gara-gara, tidak mempunyai keinginan balas dendam, tidak impulsif, dan tidak ada gangguan dalam sistem inhibisi (sistem rem yang mengatur perilaku).

Linda Kreger Silverman (2004) melaporkan bahwa anak-anak ini pada umumnya introvert (menarik diri).  Namun kepribadian menarik diri yang kadang diikuti dengan faalangst sosial ini sering salah terinterpretasi sebagai kelompok Asperger, yang tentu saja tidak benar.

 

Kenali perkembangan inteligensinya

Syarat seorang anak dapat disebut sebagai anak gifted adalah jika seorang  anak mempunyai inteligensi (IQ) yang tinggi berada di atas 130 skala Weschler, sangat kreatif, mempunyai motivasi dan komitmen terhadap kerja yang tinggi. Jika syarat-syarat itu dipenuhi ditambah adanya dukungan lingkungan, maka diharapkan ia dapat meraih prestasi istimewanya (Mönks JF & Ypenburg,I (1995).

Tetapi anak-anak the late bloomer ini justru mengalami ketertinggalan dalam area inteligensi verbal, sehingga dalam profil inteligensinya ia mengalami ketidak harmonisan profil, yang jika hanya menggunakan total skor bisa-bisa ia justru dianggap lamban belajar (karena peraihan total skor yang rendah sebagai akibat inteligensi verbal yang rendah). Kondisi seperti inilah yang banyak dialami oleh anggota mailinglist anakberbakat@yahoogroups.com . Ia tidak diperiksa secara baik, ia dianggap mempunyai pola perkembangan yang menyimpang dari perkembangan normal. Padahal ia mempunyai tahapan perkembangan yang tidak patologis tetapi  berbeda (Goorhuis & Schaerlaekens, 2008), yang tentu saja jika menggunakan alat ukur untuk kelompok anak normal, dan dievaluasi dengan kaca bagi mata anak normal, ia bisa salah terinterpretasi.

Perkembangan inteligensi seorang anak usia balita pada dasarnya belum dapat dilakukan dengan menggunakan tes IQ. Hal ini disebabkan karena seorang anak balita tengah mengalami perkembangan. Namun perkembangan inteligensi (kognitif) seorang anak balita dapat diprediksi melalui tumbuh kembangnya. Para dokter tumbuh kembang di negara-negara yang pemantauan tumbuh kembangnya kuat, upaya pemantauan dilakukan bukan hanya melihat perkembangan fisik tetapi juga antara lain bagaimana perkembangan inteligensi anak. Hal ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana prakiraan ke depan (prognosa) pada anak jika ternyata anak mengalami masalah dalam perkembangannya. Bagaimana pun seorang anak yang mempunyai perkembangan inteligensi lebih baik akan mempunyai prognosa yang lebih baik jika dibandingkan dengan yang mempunyai perkembangan inteligensi lebih lemah.

Pola perkembangan inteligensi seorang anak gifted juga  berbeda dengan pola perkembangan anak dengan perkembangan inteligensi normal. Terlebih pada anak-anak gifted visual spatial learner ini, atau The Einstein Syndrome ini. Keadaan yang berbeda ini lebih dipengaruhi oleh genetiknya, bukan merupakan pengaruh dari stimulasi sedini mungkin.

Memori yang sangat kuat. Sejak kecil sekali memori kuatnya dapat diperhatikan melalui bila kita melalui jalan yang berbeda dari yang biasa kita lalui, ia akan bereaksi menangis dan minta kembali. Atau ia akan marah jika ada barang berpindah tempat. Umumnya anak-anak ini mempunyai memori jangka panjang yang kuat sekali, dan apa yang dilihatnya dapat diregistrasinya secara detil. Bahkan dapat dikata ia mempunyai memori fotografis.

Tiga dimensional dan pandang ruang. Perkembangan kemampuan tiga dimensional dan pandang ruang merupakan perkembangan yang khas pada seorang anak gifted terutama gifted visual spatial learner ini. Dengan kemampuan ini ia mempunyai kemampuan pemecahan masalah yang sangat baik.   Perkembangan tiga dimensional ini dapat kita amati pada saat ia mulai belajar menggambar di usia yang lebih awal dari anak-anak pada umumnya. Jika seorang anak akan memulai membuat gambar bulat di usia 4 tahun, pada kelompok anak ini bisa tiba-tiba mulai di usia 2 – 3 tahun. Jika anak-anak pada umumnya perkembangan menggambarnya secara berurutan hingga lengkap beberapa bulan bahkan tahun (secara skuensial), pada kelompok anak ini tiba2 dalam dimensi yang lengkap tiga dimensional. Perkembangan tiga dimensional dan pemecahan masalah ini juga dapat diperhatikan melalui permainan yang dilakukan seperti puzzle, dan permainan membuat bentuk-bentuk tiga dimensi dengan menggunakan balok2 kecil, atau jembatan layang, rumah-rumahan dan istana dari Lego.

Higher order thinking. Berpikir tinggi (higher order thinking)  ciri anak-anak ini. Ia selalu mendahulukan berpikir  konsep. Keterbiasaannya berpikir tentang sebab akibat yang terus menerus, menjadikan ia mempunyai intuisi yang tajam terhadap berbagai kejadian (tentang hubungan dan sebab akibatnya). Berbicara dengan anak-anak seperti ini seringkali kita menghadapi lompatan urutan berpikirnya (dalam bahasa Belanda disebut sebagai doordenken). Apabila dalam suatu diskusi menghadapi suatu masalah, anak-anak ini selalu mengkritiki beberapa aspek dan mengusulkan jalan keluarnya (sementara orang lain belum berpikir ke arah sana yang pada akhirnya seringkali menimbulkan konflik pendapat).

Kelompok anak yang mendahulukan konsep ini merupakan kelompok yang minoritas, karena itu kehidupannya selalu dilalui dengan konflik pendapat, karena mayoritas manusia mendahulukan lower order thinking, yaitu mengenal fenomena dan pengetahuan untuk kemudian diaplikasikannya.

Berpikir gestalt, gifted visual spatial learner  akan lebih mempunyai gestalt ini daripada gaya berpikir sekuensial. Gaya  berpikir gestalt yaitu gaya berpikir yang simultan, sirkuler, dan tanpa kata. Gaya yang berlawanan dengan gaya berpikir ini adalah gaya berpikir yang sekuensial atau berurutan, atau biasa disebut auditory squential. Dengan gaya berpikir gestalt ini ia akan menganalisa suatu kejadian secara cepat dan serentak. Namun bukan berarti dalam pendidikannya ia tidak mengalami kesulitan dengan gaya berpikir ini, sebab ia sangat sulit menerima pelajaran yang gurunya hanya berbicara terus menerus di depan kelas.

Metakognisi. Berpikir tinggi, melakukan analisa, melihat hubungan, memecahkan permasalahan, menemukan jawaban yang baru, yang dilakukannya terus menerus, merupakan bekal dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Namun pada anak-anak kecil dimana pengetahuan yang diserapnya belum banyak, metakognisi dapat menimbulkan permasalahan kecemasan yang dalam (anxiety). Misalnya ia melihat di televisi ada gunung meletus yang laharnya mengalir tumpah dari mulut kawah mematikan semua yang ada di sekitarnya. Keadaan ini dapat mencemaskan dirinya ia takut jika gunung di sekitarnya akan meletus dan laharnya mengenai kakinya, ia kepanasan dan akan mati.

Masih kecil ia juga memikirkan tentang kematian, yang pikirannya bersambung secara sirkuler hingga melebar dan dalam, akhirnya menyebabkan ia merasa ketakutan dan kecemasan yang dalam. Ia menangis berhari-hari macam anak yang depresi. Kepada anak-anak ini perlu diajak berbicara tentang kenyataan dan pengetahuan, agar kemampuan metakognisinya tidak berkembang ke arah yang sebenarnya tidak ada dalam realita.

Jika ada komorbiditas (gifted plus)

Komorbiditas adalah suatu gangguan lain yang ikut serta dan muncul secara bersamaan. Misalnya anak gifted yang memang mempunyai perkembangan emosi dengan skala yang besar, tetapi mempunyai juga gangguan lain yang mirip, misalnya ADHD. Maka akan sangat sulit membedakan apakah anak tersebut memang seorang anak gifted dengan skala perkembangan emosi yang besar atau memang seorang anak gifted plus ADHD. Untuk hal ini memang perlu dilakukan pendeteksian yang baik, sehingga jika memang si anak adalah gifted plus ADHD, maka penanganannya perlu dilakukan ke dua arah, baik ke arah potensi keberbakatannya maupun  ADHD yang disandangnya (Webb dkk, 2005).

Komorbiditas yang dapat ditemui pada anak-anak ini antara lain juga masalah gangguan perkembangan motorik halus, dan gangguan belajar (Learning Disabilities). Namun yang tersering adalah masalah emosional yang mengarah pada  ADHD.

Gifted plus autisme, sebetulnya tidak bisa terjadi. Karena dua kelompok itu merupakan kelompok yang berkebalikan. Kelompok autisme adalah kelompok yang mengalami keterbatasan kreativitas, dan keterbatasan pemecahan masalah. Sedangkan kelompok gifted justru mempunyai kreativitas yang tinggi dan kuat dalam pemecahan masalah. Namun yang sering terjadi di lapangan adalah perilaku menarik diri pada kelompok anak gifted ini sering terinterpretasi sebagai gangguan autisme. Akhirnya ia sudah salah mendapatkan diagnosa. Sekalipun ada kelompok autisme yang mempunyai inteligensi yang tinggi, namun kelompok ini lebih kepada mengumpulkan informasi dan melakukan imitasi – bukan melakukan pemecahan masalah sebagaimana anak-anak gifted.

Pada kelompok gifted yang mempunyai perilaku mirip dengan autisme sering disebut sebagai gifted plus masalah perkembangan emosi. Bukan gifted plus autisme.

Perlu rujukan multidisipliner dan terpadu

Apapun itu gangguannya, terhadap anak-anak berkekhususan diperlukan pendekatan yang multidisipliner dan kerja yang terpadu. Sekalipun ia seorang anak gifted, namun mempunyai kekhususan perkembangan sebagaimana halnya The Einstein Syndrome ini, ia tetap membutuhkan pendekatan perujukan secara multidisipliner dan terpadu.

Namun sayangnya yang ada di Indonesia, kelompok anak-anak seperti ini masih belum dikenal secara luas baik di kalangan profesi yang berkecimpung dalam perkembangan anak dan gangguannya, guru, maupun masyarakat itu sendiri. Tidak heran jika banyak dari anak-anak ini yang mendapatkan diagnosa berganti-ganti, dan mendapatkan berbagai terapi yang tidak diperlukan baginya.

Selain ia membutuhkan rujukan multidispliner dan terpadu, ia juga membutuhkan observasi jangka panjang berkesinambungan. Hal ini dikarenakan sepanjang waktu dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun, ia akan mengalami perubahan gejala, berkembang dari satu gejala ke gejala yang lain. Ada gejala yang menghilang, menipis, bahkan ada yang menetap. Atau ada gejala baru yang muncul. Karena itu ia juga membutuhkan IEP (Individual Education Program) yang memerlukan evaluasi secara berkala dan dilakukan pembaharuan perencanaan.

Kesulitan rujukan ke berbagai profesi pada saat ini adalah karena kelompok ini belum ada protokolnya. Begitu juga belum ada panduannya dari kedokteran tumbuh kembang yang dapat memisahkan anak gifted yang mengalami keterlambatan bicara dengan anak-anak bergangguan lainnya. Ceklis sebagai pendamping (diagnosa pembanding) bagi anak-anak gifted terlambat bicara ini dengan anak berkekhususan lainnya yang mempunyai gejala-gejala yang mirip-mirip memang tidak ada. Hal ini disebabkan karena pembuatan ceklisnya hingga saat ini memang belum dapat dilakukan karena pola tumbuh kembang anak gifted yang terlalu krusial (Mooij, 2007).

Karena tidak ada protokol dan ceklis pendeteksian baginya, artinya pihak orang tua harus benar-benar memahami persoalan ini. Sebab agar anak-anak ini dapat dipisahkan dari anak bergangguan lainnya pada waktu  pendeteksian  bahkan pendiagnosaan maka pihak profesi harus pula selain memahami gejala anak-anak berkekhususan juga anak-anak gifted ini. Sayangnya karena anak gifted selalu dianggap bukan anak yang patologis maka pihak kedokteran dan psikolog klinik tidak mempelajari pola perkembangannya. Hal seperti inilah yang drasakan sangat krusial bagi orang tua, karena pada akhirnya menghadapi pihak profesi yang tidak pernah mempunyai kesepakatan. Pada akhirnya yang mengalami kerugian adalah si anak. Terlebih jika orang tua tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang gejala-gejala yang dihadapi si anak. Ia dapat tersorong ke berbagai tempat yang sebetulnya dapat dihindari.

Agar anak-anak ini tidak terseret dan terjebak  ke dalam kelompok anak-anak bergangguan, maka ada baiknya orang tua mencatat berbagai perkembangan anak dari hari ke hari, agar jika diperlukan masih dapat ditelusuri ke belakang ke pola tumbuh kembangnya.

Sekolah reguler dengan pendekatan inklusi

Sepanjang anak masih mempunyai kesulitan dan prestasinya belum mencapai prestasi yang sesuai dengan kapasitasnya, maka anak-anak ini masih belum dapat diikutsertakan dalam kelas-kelas khusus anak gifted. Ia membutuhkan pendekatan lain yang diarahkan pada faktor lemah dan faktor kuatnya. Namun bukan berarti bahwa giftedness dan berbagai karakteristik lainnya tidak mendapat perhatian. Ia tetap mendapatkan perhatian sebagai anak gifted, namun masalah bicara dan berbahasa juga perlu mendapatkan perhatian. Karena anak-anak ini sekalipun di awal sekolah dasar sudah dapat mulai diajak berbicara, namun ketrampilan berbahasanya tertinggal, daftar vokabularinya juga tertinggal, yang dapat menyebabkan ketertinggalan dalam pemhaman bacaan. Ia juga mengalami ketertinggalan dalam penyusunan gramatika, serta menyusun elemen-elemen cerita dalam sebuah karya tulis. Semua ketertinggalan ini perlu mendapatkan dukungan dan penanganan agar tidak menimbulkan kefrustrasian karena ada hambatan dalam merealisasikan dorongan internal mengembangkan kemampuan intelektualnya.

Bentuk sekolah yang cocok untuk anak-anak ini adalah kelas yang menyediakan kurikulum berdiferensiasi. Agar beberapa mata ajaran yang tertinggal dapat tetap diikuti, namun beberapa mata pelajaran yang baginya sangat mudah seperti misalnya peajaran berhitung dan geografi (anak-anak visual spatial learner sangat menyukai pelajaran geografi) juga mendapatkan tantangan yaitu dengan memberikan pengkayaan, pendalaman, atau pun percepatan.

Bentuk pendidikan sebagaimana di atas adalah sekolah dengan pendekatan kelas-kelas inklusi. Artinya tawaran pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi anak. Sedang tujuan pendidikan pada akhirnya perlu disesuaikan, atau terjadi fleksibilitas pencapaian tujuan pendidikan (walaupun ada batasan minimal yang harus dicapai anak).  Di kelas-kelas sekolah dasar pada umumnya anak-anak ini mempunyai variasi pencapaian prestasi. Hampir semua mempunyai prestasi luar biasa dalam pelajaran-pelajaran matetika dan sains, namun kurang berprestasi dalam pelajaran yang banyak menggunakan bahasa. Namun kesulitan berbahasa ini pada umumnya dapat dikejarnya saat sudah berada di sekolah lanjutan. Walau begitu kepadanya diperlukan bimbingan intensif pelajaran berbahasa, terutama pengertian dan pemahaman setiap kata. Ia terbiasa berpikir tanpa menggunakan kata-kata, ia berpikir dengan menggunakan imajinasi yang vivid (hidup) sehingga seringkali pengertian kata ditinggalkannya. Karenanya perlu diperkenalkan dan diajarkan bagaimana strategi belajar yang umum yang diperlukan dalam mencapai prestasi, disamping juga menggunakan cara-cara yang unik yang biasa digunakannya.

Adanya ketaknyamanan pendidikan anak-anak berkekhususan terutama anak-anak gifted kelompok ini, pada dasarnya disebabkan karena adanya kesenjangan antara penguasaan teori yang evidence based dan praktek di lapangan. Di lapangan lebih banyak ditemui praktek-praktek yang lebih banyak pada praktek coba-coba dan tidak tahu ke mana arah yang jelas baginya. Apalagi begitu banyak teori yang tidak evidence based mencerdaskan anak beredar di pasaran. Hal ini dapat dipahami karena kasus anak-anak dengan masalah ini baru dipahami baru-baru ini saja, setelah banyaknya masalah salah pendiagnosisan. Karena itu maka panduan bagi kelompok anak ini juga belum begitu populer.

Sumber bacaan

 Aldenkamp,AP; Renier,WO; Smit,LME (2004): Neurologische aspecten van ontwikkelingsproblemen bij kinderen, Garant, Antwerpen – Apeldoorn.

Bishop, DVM; North, T;  Donlan, C (1995): Genetic basis of specific language impairment:   evidence from a twin study, Developmental Medicine & Child Neurology, volume 37, issue 1, p. 56-71.

De Groot,R & Paagman, C (2003): Denkbeelden over Beelddenken, een beeld zegt meer dan duizen woorden, Theorie en praktijk rond beeldddenkers: over opvoeden, begeleiden en

 hun specifieke taalproblemen, Uitgeverij Agiel, Utrecht.

De Hoop, F  & Janson, D J (1999): Omgaan met (hoog)begaafde kinderen, Uitgevrij Intro, Baarn.

De Jong,J (2005): Dysfatische ontwikkeling aparte stoornis? VHZ Artikelen, April, p 12-15

Goorhuis,SM & Schaerlaekens, AM (2008): Handboek taalontwikkelling, taalpathologie en taaltherapie bij Nederlandsspreekende kinderen, De Tijdstroom Uitgeverij, Utrecht.

Heller, K A; Perleth,C & Tock Keng Lim (2005): The Munich Model of Giftedness Design to Identify and Promote Gifted Students, dalam: Conception of Giftedness, ed: Stenberg,RJ & Davidson,J E, Cambridge University Press, New York.

Kieboom, T (2007): Hoogbegaafd, als je kind (g)een Einstein is, Uitgeverij Lanno nv, Tiel.

Mönks JF & Ypenburg,I (1995): Hoogbegaafde kinderen thuis en op school, Samson HD Tjeenk Willink, Alpheen aan de Rijn.

Mönks JF & Knoers, AMP (1999): Ontwikkeling psychologie. Inleiding tot de verschillende deelgebieden, van Gorcum, Assen.

Mönks, JF (2000): Serving the needs of gifted individuals: the optimal match model, Agora IX: Alternative Education Training Processes, Thessaloniki, Greece, June 26-27, CEDEFOP Panorama Series.

Mönks,FJ & Pfluger, R (2005):  Gifted Education in 21 Countries in Europe: Inventory and Perspective, Radboud University of Nijmegen, Nijmegen.

Montgomery, D (2009): Gifted and talented children with special educational needs – underachievement and multiple exceptional student, dalam: Able, gifted and talented underachievers, ed. Montgomery, D., second ed. Wiley-Blackwell, Great-Britain.

Montgomery, D (2009): Effective teaching and learning to combat underachievement, dalam: Able, gifted and talented underachievers, ed. Montgomery, D., second ed. Wiley-Blackwell, Great-Britain.

Mooij, T., Hoogeveen, L., Driessen, G., van Hell, J., Verhoeven, L. (2007): Succescondities voor onderwijs aan hoogbegaafde leerlingen, Eindverslag van drie deelonderzoeken, Radboud Universiteit Nijmegen.

O’Connor, KJ (2002) : The application of Dabrowski’s Theory, dalam The social emosional development of gifted children, what do we know?, Neihart,M; Reis, SM; Robinson, NM; Moon,SM,  Prufrock Press,Inc.Washington DC.

Renzulli, JS (2005): The Three Ring Conception of Giftedness: A Developmental Model for Promoting Creative Productivity, dalam :Conception of Giftedness, ed Sternberg RJ & Davidson JE, Cambrige University Pers, New York.

Silverman,LK (1995): The Universal Experience of Being Out of Sync, complete text of keynote adress at the Eleventh World Conference Gifted and Talented Children Hongkong, July, 13.

Silverman,LK (1997):   The Construct of Asynchronous Development,  Peabody Journal of Education, vol 72, no 3&4, p. 36-58

Silverman, LK (2002): Upside Down Brilliance – The Visual Spatial Learner, DeLeon Publishing,Inc., Denver.

Sousa, DA (2003): How the gifted brain learns, Corwin Press,Inc., A Sage Publication Company, Thousand Oaks, California.

Stichting Plato (2002) : Help een hoogbegafde kind – de consultatiebureau en school arts,   Landelijk informatiecentrum hoogbegaafdheid,  Wateringan.

Tan, X; Beesems, MAG; Nyiokiktjien,CH; van de Ree, P; Tromp,A; Verschoor,CA; Woertman,JMJ (2005): Dysfatische ontwikkeling, dalam Dysfatische ontwikkeling, theorie, diagnostiek, behandeling, ed. Tan,X., Suyi Publicaties, Amsterdam.

Van Schijndel-Jehoel, T (2005): Brein bedriegt, als een autisme stoornis  geen autisme is, Wetenschaplijk Tijdschrift Autisme, jaargang 4, nummer 2, ed. augustus, p 59 – 67.

Vermeulen,P (1999): Brein bedriegt, als autisme niet op autisme lijk, Vlaamse Dienst Autisme en Uitgeverij EPO, Berchem.

Vermuelen, P (2002): Beter vroeg dan laat, beter laat dan nooit. De onderkenning van autisme bij normal tot hoogbegaafde personen, Vlaamse Dienst Autisme en Uitgeverij EPO, Berchem.

Von Károlyi, C & Winner, E (2004): Dyslexia and visual spatial talents: are they connected? Dalam:  Student with both gifts and learning disabilities, identification, assessment, and outcomes, ed. Newman, TM. & Sternberg, RJ., Kluwer Academic/Plenium Publisher, NewYork/Boston/Dordrecht/London/Moscow.

Whitehead, J & Huxtable, M (2009): How can inclusive and inclusion understanding of gifted/talents be developed educationaly? Dalam: Able, gifted and talented underachievers, ed. Montgomery, D., second ed. Wiley-Blackwell, Great-Britain.

Webb,JT; Armend,ER; Webb,NE; Goerss,J; Beljan,P; Olenchak,FR (2005): Misdiagnois and Dual Diagnosis of Gifted Children and Adults, Great Potential Pers,inc., Scottsdale, Arizona.


[1] Konsep pemahaman giftedness yang kini sudah digunakan oleh banyak negara di Eropa yang tergabung dalam European  Council for High Abilities adalah model giftedness dari Kurt Heller yang disebut Munich Model dari Kurt Heller. Model ini merupakan pengembangan dari 1) The Three Ring of Renzulli – yang dari sini dilengkapi oleh JF Mönks menjadi model 2) The Triadich of Renzulli Monks.

[2] Skor Apgar  adalah skor yang diberikan pada bayi yang baru lahir atas pemeriksaan pernafasan, denyut nadi, tonus otot, warna, dan reaksi terhadap rangsangan. Pemeriksaan dilakukan mulai menit pertama, menit kelima, dan menit ke sepuluh. Pemeriksaan menit kelima dan ke sepuluh merupakan pemeriksaan yang penting untuk melihat bagaimana kondisi anak selanjutnya. Skor Apgar sendiri berada dalam range 1 – 10. Anak dengan kelahiran normal harus mempunyai skor antara 7 – 10. Jika ia mempunyai skor di bawah 4 maka ia memerlukan bantuan atau tindakan segera. Istilah Apgar sendiri diambil dari Dr Virginia Apgar yang mengembangkan skor ini ditahun 1952.

Sumber :

http://gifted-disinkroni.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: