Intelegensi : Faktor yang selalu menjadi debat sambal

Membicarakan inteligensi atau kecerdasan secara terbuka di masayakat kita Indonesia, kurasakan bagi orang tua benar-benar membingungkan. Sebab informasi yang tersebar bisa bermacam-macam. Apalagi jika para pemberi informasi di media cetak maupun online, menggunakan pemahaman teori yang tercampur aduk. Ramuan dari potongan-potongan teori. Seringkali justru menghadirkan debat dan konflik, mulai dari konflik pengertian hingga konflik program yang dapat diberikan pada anak. Karena teori-teori itu seringkali saling bertentangan, tidak cocok lagi, atau bahkan teori yang sudah masuk keranjang sampah – dan harus sudah dibuang – masih tetap digunakan. Padahal perkembangan ilmiah akhir-akhir ini luar biasa cepat, sebagai hasil dari majunya teknologi informatika, penciteraan otak, serta penelitian-penelitian lainnya.

Bila kuikuti diskusi-diskusi secara umum di berbagai mailinglist, akhirnya yang ada hanya debat sambal (karena begitu panasnya) dan tidak pernah ada kesimpulan. Kejadian ini selalu berulang setiap hari, dan bahkan membicarakan yang itu-itu saja. Seringkali yang berbicara lebih panas berapi-api, justru kelompok-kelompok tertentu dengan maksud menjual “teori”nya dengan mengatasnamakan parenting, stimulasi dini, intervensi dan terapi, bahkan pendidikan.

Apa yang membuat heran diriku adalah, mengapa yang menyampaikan informasi justru seringkali juga dari para praktisi maupun profesional yang duduk di lembaga-lembaga yang seharusnya memegang erat dan menjunjung tinggi patokan keilmuannya (legi artis) yang evidence based (berdasarkan bukti ilmiah), atau setidaknya protokol-protokol yang sudah disepakati oleh asosiasi keilmuannya secara internasional. Kadang ada praktisi yang mengaku sudah berpengalaman dan mampu menjaring potensi anak melalui inteligensi anak dengan alat ukur yang dibuatnya sendiri. Tapi alat ukur itu tidak pernah ada dalam literatur, hanya pengalamannya saja. Waktu seorang ibu menanyakannya padaku makna nilai-nilai yang tertera di dalamnya, jelas aku tidak dapat menjawab karena memang tidak ada acuan yang dapat digunakan. Siapapun ahlinya, juga tidak akan dapat mampu menjawabnya. Yang tahu hanya si praktisi itu saja, yang penjelasannya pun tidak jelas. Karena itu aku selalu menganjurkan pada orang tua, agar jika akan mengikutkan anak dalam sebuah tes, tanyakan menggunakan alat ukur apa, sekaligus literaturnya, untuk kemudian pelajarilah. Jika memang dapat dipercaya dan dapat digunakan secara umum, maka tes-tes itu bolehlah diikuti. Jika masih ragu dapat didiskusikan dalam berbagai mailinglist yang kini sudah banyak membuka pelayanan diskusi. Namun carilah mailinglist yang memang mempunyai jalur dalam evidence based practice.

Mengapa kukatakan harus dapat dipercaya dan dapat digunakan secara umum? Maksudku, agar pada saat kita pindah atau memindahkan anak ke sekolah lain, hasil tes itu dapat kita gunakan sebagai acuan terpercaya, dan pihak sekolah yang baru juga dapat memahami acuan kita, karena memang digunakan secara umum. Artinya tes itu memang jelas protokolnya dan memang sudah standar.

Kembali ke persoalan debat sambal, contoh debat sambal yang sering muncul adalah pemahaman bahwa IQ berada di otak kiri dan MI (Multiple Intelligence), EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient)[1][1] berada di otak kanan. Slogan yang sering dilontarkan adalah, untuk mendapatkan sukses hidup, maka otak harus seimbang antara kiri dan kanan. Dengan pemahaman seperti ini maka datanglah tawaran-tawaran untuk mengikuti pelatihan menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri yang mengatasnamakan parenting berdasarkan pengetahuan tentang otak anak. Hal ini menurutnya dinyatakan penting karena pendidikan di sekolah hanya mengaktifkan otak kiri (IQ). Karena itu agar anak kelaknya dapat sukses dalam hidupnya perlu adanya kegiatan untuk mengaktifkan otak kanan. Sehingga kedua belahan otak menjadi seimbang. Kegiatannya bermacam-macam, mulai dari bermain musik, olahraga, melukis, drama, menari, menyanyi, mengarang, dan lain-lain.

Tawaran yang sudah miring itu menjadi bertambah miring manakala ada slogan bahwa hanya memiliki IQ yang tinggi tidak menjamin seorang anak akan sukses dalam hidupnya, tetapi yang lebih menjadikan anak sukses adalah bila anak diberi bekal kecerdasan emosional yang tinggi. Sedang kecerdasan emosional tidak didapatkan di sekolah, karena sekolah hanya meningkatkan IQ bukan emosional. Slogan seperti ini justru mendorong orang untuk tidak bersekolah, tetapi lebih melatih kecerdasan emosi.

Tawaran yang sudah miring itu menjadi bertambah miring manakala ada slogan bahwa hanya memiliki IQ yang tinggi tidak menjamin seorang anak akan sukses dalam hidupnya, tetapi yang lebih menjadikan anak sukses adalah bila anak diberi bekal kecerdasan emosional yang tinggi. Sedang kecerdasan emosional tidak didapatkan di sekolah, karena sekolah hanya meningkatkan IQ bukan emosional. Slogan seperti ini justru mendorong orang untuk tidak bersekolah, tetapi lebih melatih kecerdasan emosi.

Tentang otak kiri dan otak kanan, hal itu juga menyebabkan kebingungan masyarakat mana kala disebut-sebut bahwa IQ hanya mengukur otak kiri. Atau dengan kata lain pendidikan di sekolah hanya meningkatkan IQ saja. Pemahaman-pemahaman seperti ini bukan hanya sekedar menyebabkan kebingungan tetapi justru membodohi dan menyesatkan masyarakat.

Sekalipun aplikasi IQ hanya untuk kepentingan pendidikan di sekolah, namun pengukuran dengan menggunakan IQ bukan hanya untuk mengukur otak sebelah kiri saja. Bagaimanapun IQ adalah menggambarkan sebuah inteligensi general, para psikolog menyebutnya sebagai ‘g’ intelligence. Ia akan mengukur berbagai kemampuan kognitif atau cognitive ability yang lokasinya tentu saja di berbagai bagian dari otak. Seperti yang banyak kujelaskan pada bagian satu, untuk masalah berbicara saja dibutuhkan berbagai kemampuan yang diatur oleh berbagai bagian otak. Begitu juga kemampuan lainnya, seperti kemampuan logika matematika dalam tes performansi, memerlukan kemampuan yang diatur oleh baik otak kiri maupun otak kanan. Seperti misalnya memori jangka pendek yang diatur oleh bagian otak kiri serta memori jangka panjang yang diatur otak bagian kanan. Tes IQ terdiri dari dua bagian subtes, yaitu tes kemampuan dasar verbal, dan tes kemampuan dasar performansi.

Bukan berarti pula bahwa olahraga diatur oleh otak sebelah kanan saja. Tetapi membutuhkan kerjasama segala bagian otak agar semua gerak dapat dikendalikan. Gerak motorik kasar seperti melompat dan berlari lebih banyak diatur otak sebelah kanan, tetapi gerak yang teratur step by step seperti berjalan, senam, gerakan halus menari, menggunakan rencana yang polanya sekuensial (berurutan) diatur oleh otak bagian sebelah kiri. Kedua bentuk gerakan motorik kasar dan halus serta gerakan terencana berurutan dalam kegiatan berolah raga pun sangat dibutuhkan. Begitu pula konsentrasi yang diatur oleh otak bagian belakang sedang perencanaan gerakan diatur oleh otak bagian depan.

Dengan begitu kita tidak mungkin melepaskan atau ditinggal kerja oleh salah satu bagian otak. Bayangkan apa yang terjadi jika kita tiba-tiba ditinggal kerja oleh salah satu bagian otak? Misalnya si bagian otak mogok, atau karena kecelakaan tiba-tiba ada bagian otak yang cedera. Pasti kita akan mengalami gangguan dalam bentuk bermacam-macam tergantung bagian yang mogok itu. Bisa mulut tidak dapat bergerak, padahal kita ingin bicara. Bisa mata kita hanya sebelah terbuka padahal ingin membaca, atau kita mengalami kelumpuhan sebelah badan. Dan lain sebagainya.

Sejak bayi kecil, kerja otak kiri dan kanan telah diatur secara natur biologis. Keduanya mempunyai tugas masing-masing yang saling mendukung sehingga proses tumbuh kembang anak bisa berlangsung. Disamping itu, secara alamiah, manusia akan senantiasa didominasi oleh kerja salah satu otak, sedang otak yang lain membantu kerja belahan otak satunya. Karenanya bisa dibayangkan jika kita ditinggal kerja oleh salah satu bagian otak, apa jadinya? Tentunya orang tak mungkin bisa hidup lagi. Karena otak adalah susunan syaraf pusat yang mengatur semua kegiatan fisik, bicara, berpikir, emosi, sosial, fisiologis, pencernaan, bernafas, bergerak, dan seterusnya. Atau jika otak bekerja secara simetris tanpa ada dominasi, umumnya seseorang yang mengalami ini akan mengalami kesulitan dalam berbagai hal, termasuk perkembangan bahasa, bicara, motorik, emosi, sosial, dan akademik.

Sebanyak 75 persen manusia diatur oleh dominansi belahan otak kiri, sebanyak 15 persen oleh otak sebelah kanan, dan sisanya tidak oleh otak kiri maupun otak kanan. Kondisi ini merupakan kondisi yang diatur secara genetik. Kita tidak mungkin bisa berbuat apa-apa terhadap blue print genetik. Tak mungkin kita mengganti prosentasi itu. Yang dapat kita lakukan hanyalah gunakan faktor terkuat kita, dan melatih ketrampilan untuk mengimbangi yang lemah. Misalnya, seorang anak yang mempunyai IQ normal, artinya ia lebih kuat dalam lower order thinking, yaitu mengerti instruksi dan mampu mengaplikasinya dengan baik. Hal ini adalah faktor kuatnya. Tetapi jangan anak itu kita beri tugas bebas mengerjakan sendiri misalnya berupa tugas membuat karya tulis yang banyak menggunakan pemecahan masalah dan analisa. Tidak mungkin. Namun kelemahan ini dapat kita bantu dengan cara mengajarkannya secara tahap pertahap bagaimana memecahkan suatu persoalan, data apa saja yang harus dikumpulkan dan dilakukan analisa data, bagaimana cara menganalisanya, untuk kemudian kemungkinan apa saja yang dapat kita bangun dari data yang ada. Model pemecahan masalah seperti secara pertahap perlu kita ajarkan, dan anak dilatih untuk mengikuti cara-cara pemecahan masalah seperti itu. Cara ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan ketrampilan berpikir tinggi atau higher order thinking yaitu analisa-sintesa, pemecahan masalah, dan membangun sesuatu yang baru. Buat anak-anak gifted, justru jangan diajarkan secara tahap pertahap demikian, karena pada dasarnya ia memang kuat dalam pemecahan masalah dan berpikir kreatif mencari cara-cara yang menurutnya paling baik.

Disamping itu anak-anak gifted adalah anak yang terlahir sebagai produser ide, melakukan pemecahan masalah, dan membuat sesuatu yang baru. Artinya kemampuannya terbalik dengan anak normal. Kelemahannya adalah, kesulitan dengan pelajaran hapalan yang mudah yang lebih banyak ditunjang oleh kemampuan lower order thinking. Tetapi agar perkembangan itu dapat berjalan harmonis, ia harus lebih ditempa dalam pelajaran hapalan ini. Anak-anak gifted terutama anak gifted terlambat bicara ini di usianya di sekolah dasar dan awal-awal sekolah lanjutan seringkali mengalami kesulitan, karena ketidak harmonisan perkembangannya di bagian perkembangan inteligensi ini. Ia tetap harus didampingi oleh kita dalam mengerjakan tugas2 sekolah di rumah.


[1][1] Hingga saat ini dunia masih belum bisa membuat alat ukur baku untuk MI, EQ, SQ yang standar dan valid.

Sumber :

http://gifted-disinkroni.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: