Tiga Hal Yg Mempengaruhi Kecerdasan Balita

Tiga hal yg mempengaruhi perkembangan kecerdasan balita adalah genetik, gizi dan lingkungan.  Sampai saat ini belum ada penelitian yang menunjukan mana di antara ketiga faktor tersebut yang berperan lebih besar.

       1.   Faktor genetik :

Merupakan potensi dasar dalam perkembangan kecerdasan tetapi faktor ini bukan yang terpenting.

       2. Faktor gizi :

Berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan kecerdasan selama masa pesat tumbuh (growth spurt) otak yakni sekitar masa kelahiran sampai bayi berusia 18 bulan.

Para ahli gizi pada Lokakarya Peranan Asam Lemak Esensial dalam Perkembangan Kecerdasan di Serpong, 14-15 Februari 1996 yang diselenggarakan atas kerja sama Dewan Riset nasional, Pusat penelitian dan Pengembangan Gizi Masyarakat Universitas Indonesia, sepakat bahwa gizi dan kesehatan ibu merupakan faktor utama penentu mutu anak-anaknya.

Kekurangan Energi Protein yang terjadi pada saat janin berada dalam kandungan akan berdampak berkurangnya berat otak sampai 13 persen. Berkurangnya berat otak ini karena jumlah dan ukuran sel otak berkurang yang disebabkan oleh terhambatnya sintesis protein.

Kurang berkembangannya otak karena Kekurangan Energi Protein yang terjadi selama masa pesat tumbuh (growth spurt) otak akan sulit dikejar. Dampak Kekurangan Energi Protein ini juga menyebabkan mielinisasi berkurang. Mielinisasi adalah proses pembentukan mielin yang berfungsi sebagai penghantar impuls. Kekurangan Energi Protein menyebabkan IQ berkurang, kemampuan pengenalan geometrik dan kemampuan berkonsentrasi rendah.

Asam Lemak Esensial juga mempunyai peran penting dalam peningkatan tingkat kecerdasan anak. Bersama kolesterol, Asam Lemak Esensial membentuk 75 persen pembungkus urat saraf dalam otak yang mempercepat penghantaran impuls saraf.

Asam Lemak Esensial merupakan asam lemak yang tidak dapat dibuat dalam tubuh kita.
Dua jenis Asam Lemak Esensial yang penting yaitu Asam Lemak Omega-3 dan Omega-6.

Dinyatakan bahwa secara kimia, otak manusia merupakan organ yang banyak mengandung suatu lapisan tipis (membran) lemak. Agar membran berfungsi dengan tepat diperlukan Asam Lemak Omega-3 dan Omega-6.

Asam Lemak Omega-3 dan Omega-6 terdapat pada Air Susu Ibu (ASI), telur , kedelai, ikan dan produk olahannya termasuk minyak ikan.

Pedoman yang perlu dipegang adalah agar ibu hamil selalu menjaga kesehatan dan makan makanan bergizi.
Setelah bayi lahir, perlu diberikan:
“ ASI Eksklusif ” selama 4 bulan terus menerus dan dilanjutkan dengan makanan gizi seimbang (4 sehat 5 sempurna) sehingga perkembangan kecerdasan otaknya optimal.

       3.  Faktor lingkungan :

Berperan dalam memberikan stimulasi pada otak untuk membangun kabelisasi (sel penghubung) syaraf dan menghaluskannya.Selama tahun pertama, sangat penting untuk selalu menghadirkan lingkungan penstimultan otak.

Hilangnya lingkungan penstimultan hanya membuat otak bayi menderita. Ini kesimpulan dari banyak temuan.

Sebagai contoh:
Temuan di Baylor College of Medicine di Houston. Bayi yang tak banyak bermain atau jarang mendapat sentuhan, mengembangkan otak 20-30 persen lebih kecil dibandingkan otak bayi yang seumur. Penemuan dilaboratorium ilmu hewan University of Ullionis di Urbana-Champaign malah lebih ekstrim. Pada tikus yang tak bermain, terjadi penciutan otak dan pada tikus yang diberi permainan [jungkitan, tangga maupun treadmill] terjadi penambahan sinap per neuron hingga 25 persen.
Dengan kata lain, pengalaman yang lebih banyak membuat otak jadi lebih kaya dengan neuron dan sinap.

Jumlah sinap (sel penghubung antar neuron) ini berhubungan erat dengan tingkat daya kerja otak. Hal ini terbukti dengan hasil kajian Santiago [1911]. Dari penelitian seiris otak Albert Einstein ternyata bahwa bagian lobus parietal kiri Einstein memiliki sel penghubung yang jauh lebih banyak dari pada otak manusia normal.

Ada anggapan bahwa faktor sosial dan lingkungan dianggap lebih penting dalam menentukan kecerdasan seorang anak. Artinya, anak-anak yang kekurangan gizi bisa mengejar perkembangan mentalnya bila hidup dalam sosial dan lingkungan yang baik. Tetapi secara teoritis, sebenarnya faktor sosial dan lingkungan ini berperan kecil bila kekurangan gizi terjadi pada masa pesat tumbuh (growth spurt) otak, karena kekurangan yang terjadi pada masa tersebut bersifat irreversible (tidak dapat pulih).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: